BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP MEDIK
1. Definisi
a. Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, jamur maupun nekbrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hati. Dan sering timbul sebagai komplikasi dari peradangan akut saluran empedu.
b. Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, jamur maupun nekbrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hati. Dan sering timbul sebagai komplikasi dari peradangan akut saluran empedu (http://www.anggun.web.id/abse-hati-liver-abscesses.html )
c. Jadi Abses hepar adalah rongga berisi nanah pada hati yang diakibatkan oleh infeksi. Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri, parasit, jamur maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal
2. Anatomi dan Fisiolog
Hati merupakan organ homeostasis yang memainkan peranan penting dalam proses metabolisma dalam manusia dan haiwan. Hati mempunyai pelbagai fungsi termasuk menyimpan glikogen, mensintesis protein plasma, dan menyahtoksik dadah. Ia menghasilkan hempedu yang penting bagi penghadaman. Ia melaksana dan mengawal pelbagai fungsi biokimia jumlah besar yang memerlukan tisu khas. Istilah perubatan yang berkaitan dengan hati sering kali bermula dari perkataan Greek bagi hati yaitu hepar, menjadi hepato atau hepatik. Hati berwarna perang kemerahan dan terletak di bawah diafragma yaitu di dalam rongga abdomen. Hati menerima makanan terlarut dalam darah apabila makanan ini tercerna dan diserap di usus.
Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, mempunyai berat sekitar 1.5 kg. Walaupun berat hati hanya 2-3% dari berat tubuh, namun hati terlibat dalam 25-30% pemakaian oksigen. Sekitar 300 milyar sel-sel hati terutama hepatosit yang jumlahnya kurang lebih 80%, merupakan tempat utama metabolisme intermedier
. Ia terletak di bawah diafragma di sebelah kanan badan Hati manusia dewasa mempunyai berat antara 1.3 - 3.0 kilogram. Ia adalah organ lembut berwarna perang kemerahan. Hati merupakan organ kedua terbesar manusia (organ terbesar adalah kulit) dan kelenjar terbesar dalam tubuh manusiamanusia. Sebahagian besar permukaan hati terletak di dalam sangkar toraks bagi melindunginya daripada kecederaan. ia juga menjadi alas bagi pundi hempedu yang menyimpan hempedu. Secara anatomi, hati dapat dibahagikan kepada empat lobus iaitu lobus kanan (right lobe), lobus kiri (left lobe), caudate lobe, dan quadrate lobe. Lihat gambar untuk penerangan yang lebih jelas.
Berikut adalah fungsi-fungsi hati:
1. Mengawal aras glukosa darah dengan menyimpan glikogen di dalam hati.
2. Menyimpan vitamin dan garam mineral tertentu.
3. Mengawalatur metabolisme karbohidrat, lipid dan asid amino.
4. Menghasilkan hempedu yang akan disimpan di dalam pundi hempedu.
5. Menghasilkan protein-protein plasma tertentu seperti albumin.
6. Menghasilkan faktor-faktor pembekuan darah I (fibrinogen), II (protrombin), V, VII, IX, X and XI
7. Menyahtoksik bahan-bahan beracun terutama dadah dan bahan-bahan bernitrogen seperti ammonia.
8. Sebagai tempat penghasilan sel-sel darah merah fetus.
9. Menguraikan molekul hemoglobin tua.
10. Menyingkirkan hormon-hormon berlebihan. ( price & Wilson 2006 )
3. Etiologi
a. Salmonella Thypi
b. Entamoeba Hystolytica
c. Streptokokus
d. Escherichia Coli
Abses hati piogenik dapat terjadi melalui infeksi yang berasal dari :
1. vena porta yaitu infeksi pelvis atau gastrointestinal, bias menyebabkan pielflebitis porta atau emboli septik.
2. saluran empedu merupakan sumber infeksi yang tersering. Kolangitis septik dapat menyebabkan penyumbatan saluran empedu seperti juga batu empedu, kanker, striktura saluran empedu ataupun anomali saluran empedu kongenital.
3. infeksi langsung seperti luka penetrasi, fokus septik berdekatan seperti abses perinefrik, kecelakaan lau lintas
4. septisemia atau bakterimia akibat infeksi di tempat lain.
5. kriptogenik tanpa faktor predisposisi yang jelas, terutama pada organ lanjut usia.
Pada amebiasis hati penyebab utamanya adalah entamoeba hystolitika. Hanya sebagian kecil individu yang terinfeksi E.hystolitika yang memberi gejala amebiasis invasif, sehingga ada dugaan ada 2 jenis E.hystolitika yaitu strain patogen dan non patogen. Bervariasinya virulensi berbagai strain E.hystolitika ini berbeda berdasarkan kemampuannya menimbulkan lesi pada hati. Patogenesis amebiasis hati belum dapat diketahi secara pasti. Ada beberapa mekanisme yang telah dikemukakan antara lain faktor virulensi parasit yang menghasilkan toksin, ketidakseimbangan nutrisi, faktor resistensi parasit, imunodepresi pejamu, berubah-ubahnya antigen permukaan dan penurunan imunitas cell-mediated
Secara singkat dapat dikemukakan 2 mekanisme :
1. Strain E.hystolitica ada yang patogen dan non patogen.
2. Secara genetik E.hystolitica dapat menyebabkan invasi tetapi tergantung pada interaksi yang kompleks antara parasit dengan lingkungan saluran cerna terutama pada flora bakteri.
Mekanisme terjadinya amebiasis hati :
a. Penempelan E.hystolitica pada mukus usus.
b. Pengerusakan sawar intestinal.
c. Lisis sel epitel intestinal serta sel radang. Terjadinya supresi respons imun cell-mediated yand disebabkan enzim atau toksin parasit, juga dapat karena penyakit tuberkulosis, malnutrisi, keganasan dll.
d. Penyebaran ameba ke hati. Penyebaran ameba dari usus ke hati sebagian besar melalui vena porta. Terjadi fokus akumulasi neutrofil periportal yang disertai nekrosis dan infiltrasi granulomatosa. Lesi membesar, bersatu dan granuloma diganti dengan jaringan nekrotik. Bagian nekrotik ini dikelilingi kapsul tipis seperti jaringan fibrosa. Amebiasis hati ini dapat terjadi berbulan atau tahun setelah terjadinya amebiasis intestinal dan sekitar 50% amebiasis hati terjadi tanpa didahului riwayat disentri amebiasis
4. Insiden
Abses hati didapatkan di seluruh dunia, abses hati piogenik lebih sering ditemukan di negara maju termasuk Amerika Serikat, sedangkan abses hati amuba di negara sedang berkembang yang beriklim tropis dan sub tropis terutama pada daerah dengan kondisi lingkungan yang kurang baik. Insiden tahunan abses hati piogenik mencapai 2,3 kasus per 100.000 penduduk dan lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 3,3 berbanding 1,3 per 100.000 penduduk. Insiden abses hati amuba di Amerika Serikaty mencapai 0,05 % sedangkan di India dan Mesir mencapai 10%-30% / tahun dengan perbandingan laki-laki: perempuan sebesar 3:1 sampai dengan 22:1 Insiden amoebiasis hati di RS di Indonesia berkisar antara 5-15 pasien pertahun. Penelitian epidemiologi di Indonesia menunjukkan perbandingan pria : wanita berkisar 3:1 sampai 22:1, Penularan pada umumnya melalui jalur oral-fekal dan dapat juga oral-anal-fekal. Kebanyakan amoebiasis hati yang dikenai adalah pria. Usia yang dikenai berkisar antara 20-50 tahun terutama dewasa muda dan lebih jarang pada anak.
5. Patofisiologi
Akibat masuknya bakteri atau amoeba ke hepar, menyebabkan jaringan yang sehat menjadi rusak dan menimbulkan reaksi radang karena adanya kerusakan jaringan dan radang yang berlangsung lama menyebabkan jaringan hepar menjadi nekrosis. Hati tampak membengkak dan daerah yang abses menjadi pucat kekuningan, berbeda dengan hati sehat yang berwarna merah tua. Sel hepar yang jauh dari fokus infeksi juga mengalami sedikit perubahan meskipun tidak ditemukan amoeba. Abses tersebut dikelilingi oleh jaringan ikat yang membatasi perusakan lebih jauh kecuali bila ada infeksi tambaha.
6. Manifestasi klinis
Manifestasi sistemik AHP lebih berat dari pada abses hati amebik. Dicurigai adanya AHP apabila ditemukan sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan perut kanan atas, yang di tandai dengan jalan membungkuk kedepan dengan kedua tangan diletakan di atasnya.( Herrero, M., 2005 kutip dari http://ilmubedah.info/abses-hati-20110321.html )
Demam/panas tinggi merupakan keluhan yang paling utama, keluhan lain yaitu nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, dan disertai dengan keadaan syok. Apabila AHP letaknya dekat digfragma, maka akan terjadi iritasi diagfragma sehingga terjadi nyeri pada bahu sebelah kanan, batuk ataupun terjadi atelektesis, rasa mual dan muntah, berkurangnya nafsu makan, terjadi penurunan berat badan yang unintentional, (Tukeva,T.A.etal,2005 dikuti dari http://www.anggun.web.id/abse-hati-liver-abscesses.html )
Cara timbulnya abses hati amoebik biasanya tidak akut, menyusup yaitu terjadi dalam waktu lebih dari 3 minggu. Demam ditemukan hampir pada seluruh kasus. Terdapat rasa sakit diperut atas yang sifat sakit berupa perasaan ditekan atau ditusuk. Rasa sakit akan bertambah bila penderita berubah posisi atau batuk. Penderita merasa lebih enak bila berbaring sebelah kiri untuk mengurangi rasa sakit. Selain itu dapat pula terjadi sakit dada kanan bawah atau sakit bahu bila abses terletak dekat diafragma dan sakit di epigastrium bila absesnya dilobus kiri.
Anoreksia, mual dan muntah, perasaan lemah badan dan penurunan berat badan merupakan keluhan yang biasa didapatkan. Batuk-batuk dan gejala iritasi diafragma juga bisa dijumpai walaupun tidak ada ruptur abses melalui diafragma. Riwayat penyakit dahulu disentri jarang ditemukan. Ikterus tak biasa ada dan jika ada ia ringan. Nyeri pada area hati bisa dimulai sebagai pegal, kemudian mnjadi tajam menusuk. Alcohol membuat nyeri memburuk dan juga perubahan sikap.
Pembengkakan bisa terlihat dalam epigastrium atau penonjolan sela iga. Nyeri tekan hati benar-benar menetap. Limpa tidak membesar.
Gambaran klinik tidak klasik dapat berupa :
Gambaran klinik tidak klasik dapat berupa :
a. Benjolan didalam perut, seperti bukan kelainan hati misalnya diduga empiema kandung empedu atau tumor pancreas.
b. Gejala renal. Adanya keluhan nyeri pinggang kanan dan ditemukan massa yang diduga ginjal kanan. Hal ini disebabkan letak abses dibagian posteroinferior lobus kanan hati.
c. Ikterus obstruktif. Didapatkan pada 0,7% kasus, disebabkan abses terletak didekat porta hepatis.
d. Colitis akut. Manifestasi klinik colitis akut sangat menonjol, menutupi gambaran klasik absesnya sendiri.
e. Gejala kardiak. Ruptur abses ke rongga pericardium memberikan gambaran klinik efusi pericardial.
f. Gejala pleuropulmonal. Penyulit yang terjadi berupa abses paru menutupi gambaran klasik abses hatinya.
g. Abdomen akut. Didapatkan bila abses hati mengalami perforasi ke dalam rongga peritoneum, terjadi distensi perut yang nyeri disertai bising usus yang berkurang.
h. Gambaran abses yang tersembunyi. Terdapat hepatomegali yang tidak jelas nyeri, ditemukan pada 1,5 %.
i. Demam yang tidak diketahui penyebabnya. Secara klinik sering dikacaukan dengan tifus abdominalis atau malaria.
7. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Julius, ilmu penyakit dalam jilid III, (2005). Pemeriksaan penunjang
antara lain
a. Laboratorium
Untuk mengetahui kelainan hematologi antara lain hemoglobin, leukosit, dan pemeriksaan faal hati.
b. Foto dada
Dapat ditemukan berupa diafragma kanan, berkurangnya pergerakkan diafragma, efusi pleura, kolaps paru dan abses paru.
c. Foto polos abdomen
Kelainan dapat berupa hepatomegali, gambaran ileus, gambaran udara bebas diatas hati.
d. Ultrasonografi
Mendeteksi kelainan traktus bilier dan diafragma.
e. Tomografi
Melihat kelainan di daerah posterior dan superior, tetapi tidak dapat melihat integritas diafragma.
f. Pemeriksaan serologi
Menunjukkan sensitifitas yang tinggi terhadap kuman.
8. Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
1. Abses hati piogenik
a) Sefalosporin generasi ke-3 dan klindamisin atau metronidazole. Jika dalam waktu 2 – 48 jam belum ada perbaikan klinis dan laboratoris, maka antibiotika yang digunakan diganti dengan antibiotika yang sesuai dengan hasil kultur sensitivitas aspirat abses hati.
b) Pengobatan secara parenteral dapat dirubah menjadi oral setelah pengobatan parenteral selama 10-14 hari, dan kemudian dilanjutkan kembali hingga 6 minggu kemudian .
2. Abses hati Ameba
a) Metronidazole 3 x 750 mg per oral selama 7-10 hari atau Tinidazole 3 x 800 mg per oral selama 5 hari, dilanjutkan dengan preparat luminal:
b) Paromomycin 25–35 mg/kg/hari per oral terbagi dalam 3 dosis selama 7 hari atau lini kedua Diloxanide furoate 3 x 500 mg per oral selama 10 hari .
b. Aspirasi jarum perkutan
Indikasi aspirasi jarum perkutan:
1. Resiko tinggi untuk terjadinya ruptur abses yang didefinisikan dengan ukuran kavitas lebih dari 5 cm
2. Abses pada lobus kiri hati yang dihubungkan dengan mortalitas tinggi dan frekuensi tinggi bocor ke peritoneum atau perikardium
3. Tak ada respon klinis terhadap terapi dalam 5-7 hari
c. Drainase perkutan
Drainase perkutan abses dilakukan dengan tuntunan USG abdomen atau CT scan abdomen. Penyulit yang dapat terjadi : perdarahan, perforasi organ intra abdomen, infeksi, ataupun terjadi kesalahan dalam penempatan kateter untuk drainase.
d. Drainase secara operasi
Tindakan ini sekarang jarang dikerjakan kecuali pada kasus tertentu seperti abses dengan ancaman rupture atau secara teknis susah dicapai atau gagal dengan aspirasi biasa/ drainase perkutan.
e. Reseksi hati
Pada abses hati piogenik multipel kadang diperlukan reseksi hati. Indikasi spesifik jika didapatkan abses hati dengan karbunkel (liver carbuncle) dan disertai dengan hepatolitiasis, terutama pada lobus kiri hati.
Berdasarkan kesepakatan PEGI (Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia) dan PPHI (Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia) di Surabaya pada tahun 1996:
a. Abses hati dengan diameter 1-5 cm : terapi medikamentosa, bila respon negatif dilakukan aspirasi
b. Abses hati dengan diameter 5-8 cm: terapi aspirasi berulang
c. Abses hati dengan diameter ≥ 8 cm : drainase per kutan
B. PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Data dasar pengkajian pasien dengan Abses Hepar, meliputi.
a. Aktivitas/istirahat, menunjukkan adanya kelemahan, kelelahan, terlalu lemah, latergi, penurunan massa otot/tonus.
b. Sirkulasi, menunjukkan adanya gagal jantung kronis, kanker, distritmia, bunyi jantung ekstra, distensi vena abdomen.
c. Eliminasi, Diare, Keringat pada malam hari menunjukkan adanya flatus, distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus, feses warna tanah liat, melena, urine gelap pekat.
- Makanan/cairan, menunjukkan adanya anoreksia, tidak toleran terhadap makanan/tidak dapat mencerna, mual/muntah, penurunan berat badan dan peningkatan cairan, edema, kulit kering, turgor buruk, ikterik.
- Neurosensori, menunjukkan adanya perubahan mental, halusinasi, koma, bicara tidak jelas.
- Nyeri/kenyamanan, menunjukkan adanya nyeri abdomen kuadran kanan atas, pruritas, sepsi perilaku berhati-hati/distraksi, focus pada diri sendiri.
- Pernapasan, menunjukkan adanya dispnea, takipnea, pernapasan
- dangkal, bunyi napas tambahan, ekspansi paru terbatas, asites, hipoksia
- Keamanan, menunjukkan adanya pruritas, demam, ikterik, angioma spider, eritema.
2. Diagnose Keperawatan
a. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan metabolik, anoreksia, mual/muntah.
c. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan asites dan edema
d. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu dalam jaringan.
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi dengan proses penyakit.
f. Hipertermi berhunbungan dengan proses infeksi.
g. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan hepar.
h. Pola napas tidak efektif berhubunagn dengan asites dan restriksi pengembangan toraks akibat asites, distensi abdomen serta adanya cairan dalam rongga toraks.
3. Rencana Keperawatan
DX.I . Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan : Klien menunjukkan perbaikan terhadap aktifitas.
Kriteria hasil :
a. Mengekspresikan pemahaman tentang pentingnya perubahan tingkat aktifitas.
b. Meningkatkan aktifitas yang dilakukan sesuai dengan perkembangan kekuatan otot.
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Tingkatkan tirah baring, ciptakan lingkunga yang tenang. 2. Tingkat aktifitas sesuai toleransi. 3. Awasi kadar enzim hepar | 1. Meningkatkan ketenangan istirahat dan menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. 2. Tiarah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu periode istirahat. 3. Membantu menurunkan kadar aktifitas tepat, sebagai peningkatan prematur pada potensial resiko berulang. |
DX.II. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan masukan metabolik, anoreksia, mual/ muntah
Tujuan : Klien menunjukkan status nutrisi yang adekuat.
Kriteria hasil :
a. Nafsu makan baik.
b. Tidak ada keluhan mual/muntah.
c. Mencapai BB , mengarah kepada BB normal .
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Awasi keluhan anoreksia, mual/muntah. 2. Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makanan sediki dalam frekwensi sering. 3. Lakukan perawatan mulut sebelum makan 4. Timbang berat badan. 5. Berikan obat vit. B kompleks, vit. c tambahan diet lain sesuai indikasi. | 1. Berguna dalam mendefinisikan derajat, luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat. 2. Makan banyak sulit untuk mengatur bila klien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk pada siang hari, membuat masukan makanan sulit pada sore hari. 3. Menghilangkan rasa tidak enak dan meningkatkan nafsu makan 4. Penurunan BB menunjukkan tidak adekuatnya nutrisi klien. 5. Memperbaiki kekurangan dan membantu dan proses penyembuhan. |
DX.III. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan asites dan edema Tujuan : pemulihan kepada volume cairan yang normal
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Batasi asupan Natrium dan cairan jika Diinstruksikan 2. Berikan diuretic, suplemen kalium dan protein. 3. Catat asupan dan haluaran cairan. 4. Ukur dan catat lingkar abdomen setiap hari. | 1. Meminimalkan pembentukan asites dan edema. 2. Meningkatkan ekskresi cairan lewat ginjal dan mempertahankan keseimbangan cairan serta elektrolit yg normal. 3. Menilai efektivitas terapi dan kecukupan asupan cairan. 4. Memantau perubahan pembentukan asites dan pembentukan cairan |
DX.IV. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu dalam jaringan .
Tujuan : Klien menunjukkan jaringan kulit yang utuh.
Kriteria hasil :
a. Melaporkan penurunan proritus atau menggaruk.
b. Ikut serta dalam aktifitas untuk mempertahankan integritas kulit
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Lakukan perawatan kulit dengan sering,hindari sabun alkali. 2. Pertahankan kuku klien terpotong pendek. Instruksikan Klien menggunakan ujung jari untuk menekan pada kulit bila sangat perlu menggaruk 3. Pertahankan liner dan pakaian kering. | 1. Mencegah kulit kering berlebihan. Memberikan penghilang gatal 2. Untuk menurunkan resiko kerusakan kulit bila menggaruk. 3. Pakaian basah dan berkeringat adalah sumber ketidak nyamanan |
DX.V. Kurang pengetahuan berhubungan kurangnya informasi tentang proses penyakit.
Tujuan : Klien dan keluarga mengetahui tentang proses
penyakitnya.
Kriteria hasil :
a. Mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit.
b. Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan /prognosis, kemungkinan pilihan pengobatan. 2. Berikan informasi khusus tentang penyakitnya. 3. Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan. | 1. Mengidentifikasi area kekurangan / salah informasi dan memberikan informasiambahan sesuai keperluan. 2. Kebutuhan atau rekomendasi akan bervariasi karena tipe hepatitis dan situasi individu. 3. Aktifitas perlu dibatasi sampai hepar kembali normal. |
DX.VI. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.
Tujuan : Klien menujukkan suhu tubuh dalam batas normal
Kriteria hasil :
a. Klien tidak mengeluh panas
b. Badan tidak teraba hangat
c. Suhu tubuh 36 ± 37 0C
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Kaji Adanya keluahan tanda - tanda peningkatan suhu tubuh 2. Monitor tanda - tanda vital terutama suhu tubuh 3. Berikan kompres hangat pada aksila / dahi | 1. Peningkatan suhu tubuh menujukkan berbagai gejala seperti uka merah, badan teraba hangat 2. Demam disebabkan efek - efek dari endotoksin pada hipotalamus dan efinefrin yang melepaskan pirogen 3. Akxila merupakan jaringan tipis dan terdapat pembulu darah sehingga akan mempercepat pross konduksi dan dahi berada didekat hipotalamus sehingga cepat memberikan respon dalam mengatur suhu tubuh. |
DX.VII. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan hepar.
Tujuan : klien mengungkapkan nyeri berkurang / teratasi
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Kaji tingkat nyeri 2. Monitor tanda - tanda vital 3. Berikan kenyamanan tindakan misalnya perubahan posisi relaksasi 4. Ajarkan tehnik penangan rasa nyeri control stress dan cara relaksasi 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik | 1. Mengetahui persepsi dan reaksi klien terhadap nyeri serta sebagai dasar keefektifan untuk intervensi selanjutnya 2. Perubahan frekuwensi jantung atau TD menujukkan bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda vital talah terlihat 3. Tindakan non analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidak nyamanan 4. Untuk mengalihkan perhatian. Meningkatkan control rasa serta meningkatkan kemampuan mengatasi rasa nyeri dan stress dalam periode yang lama 5. Analgetik berfungsi untuk mengurangi rasa sakiti individu. |
DX.VIII. Pola napas tidak efektif berhubunagn dengan asites dan restriksi pengembangan toraks akibat asites, distensi abdomen serta adanya cairan dalam rongga toraks.
Tujuan : Perbaikan status pernapasan Intervensi
Rencana keperawatan dan rasional
Intervensi | Rasional |
1. Tinggikan bagian kepala tempat tidur. 2. Hemat tenaga pasien 3. Bantu pasien menjalani dalam Paresentesis dan torakosintesis | 1. Mengurangi tekanan abdominal pada diafragma dan memungkinkan pengembangan toraks dan ekspansi paru yg maksimal. 2. Mengurangi kebutuhan metabolic dan oksigen pasie 4. Paresentesis dan torakosintesis merupakan tindakan yang menakutkan bagi pasien. Bantu pasien untuk bekerjasama dalam menjalani prosedur ini. |
DAFTAR PUSTAKA
Anggun.Web. (2011). Abses Hati. Web Paling Anggun. Diakses tanggal 19 Agustus 2011. http://www.anggun.web.id/abses-hati-liver-abscesses.html
Andri LA, Rasjid HA. 2006. Abses amuba pada hepar. Dexa Medica 2004; 21-6 .
Santoso M, Wijaya. 2005. Diagnostik danpenatalaksanaan abses amebiasis hati. Dexa Medica 2004;4:17-20.
Widita, H & Soemohardjo, S. ( 2006). Beberapa Kasus Abses Hati Amuba. Jurnal Penyakit Dalam. V. 7 (2). p. 121-128
Artikel bedah. (2011). Abses Hepar. Ilmubedah.Info. diakses tanggal 20 Agustus 2011. <http://ilmubedah.info/Abses-Hepar-20110321.html>.
Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Doenges, E., Moorhouse, MF dan Geissler, A. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Artikelnya sangat bermanfaat sekali,, di tunggu artikel yang lainnya
BalasHapusCoin Casino - New Online Casino Bonus
BalasHapusCoin Casino - New Online Casino Bonus - New Online Casino Bonus - Best Online Casino Online Casino 온카지노 Bonus 2021 Bitcoin 인카지노 casino review, game 제왕 카지노 selection and welcome bonus.